
Bukan Indonesia namanya jika segala sesuatunya tidak mengundang perdebatan panjang. Negara kita ini kan negara yang sangat suka berdebat, dari mulai hal yang remeh-temeh hinggalah sesuatu yang besar, semua harus melalui mekanisme perdebatan yang berlarut-larut. Sehingga tanpa kita sadari, mau tidak mau dan suka tidak suka hal tersebutlah yang membuat negara kita sering kali tertinggal beberapa langkah dari negara-negara lain.
Saat negara lain sudah mulai berangkat bekerja, kita masih saja berdebat mengenai baju apa yang sekiranya cocok untuk dipakai ke kantor. Saat negara lain sudah mulai berlari, kita masih asik berdebat mengenai sepatu apa yang kira-kira paling pas digunakan untuk berlari. Saat negara kita tengah panas-panasnya memperdebatkan mobil Esemka, maka tanpa kita sadari negara-negara yang lain sudah mulai menyiapkan landasan untuk berangkat terbang ke bulan..
Para pendiri negara ini dahulu memang meletakkan “Musyawarah Mufakat” sebagai landasan dalam membangun Republik Indonesia tercinta ini, akan tetapi bukan yang seperti ini. Dalam hal ini, saya tidak sedang mencoba untuk tidak setuju dengan para pendahulu kita, karena meletakkan budaya musyawarah Mufakat tersebut. Akan tetapi dahulu, para pendiri Republik ini membawa segala perbedaan pendapat ke dalam sebuah forum musyawarah, yang pada akhirnya selalu dapat menghasilkan sebuah keputusan mufakat. Dimana keputusan tersebut dapat mewakili setiap golongan yang berdebat, sehingga semua pihak dapat menghargai dan menghormatinya..
Sedang pada kenyataannya perdebatan-perdebatan yang berkembang saat ini, lebih pada sebuah adu argumentasi yang tidak berpresisi, disertai dengan arogansi serta penuh dengan gejolak rasa emosi. Hal tersebut membuat segala perbedaan pendapat tersebut menjadi semakin parah, tak terarah, tak lagi lumrah dan pada akhirnya membuat semuanya menjadi semakin terpecah belah..
Fenomena Organisasi Dakwah
Sudah menjadi hal lumrah, bahwa urusan internal menjadi problematika utama dalam sebuah organisasi, pun organisasi dakwah. Sehingga jangan salahkan kalau kemudian timbul pernyataan, bahwa 70% tenaga dan pikiran dihabiskan untuk mengurusi internal dan perencanaan. Yah… Meskipun akhirnya mereka akan melakukan pembenaran dengan berbagai dalil dan SoP organisasi. Akibatnya, dakwah lumpuh tak terurus karena sedikit sekali action.
Kalau sudah begini, siapakah yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya, mindset kita yang harus diubah. Perencanaan yang matang memang perlu, tapi juga harus diimbangi dengan kinerja yang baik. Jadi tidak terkesan timpang dan OMDO.
Mindset pertama, bahwa masyarakat itu melihat kita dari Kinerja dan Hasil. Apa peduli mereka terhadap planning atau strategi kita.
Mindset kedua, bahwa masing-masing individu harus menanamkan visi pribadi dalam organisasi, terlepas dari visi organisasi itu sendiri. Sehingga kita akan tetap fokus dan tidak akan mudah terpengaruh dengan keadaan rekan-rekan yang lain ketika mereka sedang bermasalah.
Mindset ketiga, bahwa tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan. Keyakinan seperti ini akan sangat diperlukan ketika dalam proses perencanaan menghasilkan sesuatu yang mustahil dilakukan.
So, Talk Less Do More guys!
oleh: Sa’id M. R.