<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ikhwah Gaul</title>
	<atom:link href="http://www.ikhwahgaul.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ikhwahgaul.com</link>
	<description>Tak Kenal Henti!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Sep 2012 03:38:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>Bertambah Ilmu = Bodoh</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/bertambah-ilmu-bodoh/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/bertambah-ilmu-bodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2012 03:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=560</guid>
		<description><![CDATA["Setiap bertambah ilmuku, maka semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku."]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hikmah yang perlu kita perhatikan sebagai Thalabul &#8216;Ilmi. Suatu petikan dari salah satu Imam Mazhab yang empat, yaitu Imam Asy-Syafi&#8217;i:</p>
<p><strong>&#8220;Setiap bertambah ilmuku, maka semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku.&#8221;</strong></p>
<p>Mari kita renungi bersama. Kita bandingkan dengan diri kita. Seringkali kita ketika mempunyai ilmu baru, kita merasa semakin pintar dan sombong. Berusaha menunjukkan kepintaran kita di hadapan orang lain. Bahkan tidak jarang digunakan untuk mendebat orang-orang yang belum tahu.</p>
<p><em>“Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh, atau berbangga di depan ulama, atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka.”</em> (HR. Ibnu Majah No. 253. At Tirmidzi No. 2654)</p>
<p>Ada satu nasehat dari kawan beberapa waktu lalu, <strong>&#8220;Hindarilah perasaan takjub pada diri sendiri.&#8221;</strong></p>
<p>Perasaan takjub yang bisa berupa ilmu, prestasi, karya, maupun fisik. Selain akan menimbulkan rasa ujub (sombong dan merendahkan orang lain), itu juga bisa menghambat kita untuk bersyukur dan melangkah lebih jauh lagi.</p>
<p>Mari kita belajar dari sifat padi. <em>Semakin banyak isinya, semakin pula ia menunduk (tawadhu&#8217;).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/bertambah-ilmu-bodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaket Ikhwah Gaul Kloter 4</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/jaket-ikhwah-gaul-kloter-4/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/jaket-ikhwah-gaul-kloter-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2012 05:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya Pre-Order Jaket Ikhwah Gaul Kloter 4 dibuka. Kesempatan bagi kawan-kawan yang ingin memesan dan sudah menunggu lama. Untuk desain kloter 4 ini hampir sama dengan sebelumnya, cuma beberapa perubahan di detail-detail kecil saja. Oke ini dia spesifikasinya:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaah&#8230; Akhirnya Pre-Order Jaket Ikhwah Gaul Kloter 4 dibuka. Kesempatan bagi kawan-kawan yang ingin memesan dan sudah menunggu lama. Untuk desain kloter 4 ini hampir sama dengan sebelumnya, cuma beberapa perubahan di detail-detail kecil saja. Oke ini dia spesifikasinya:</p>
<p><img src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/561618_3545334921019_2014963501_n.jpg" alt="Design" /></p>
<p>-Jaket double side<br />
-Side A (hijau) berbahan Drill Castillo (kualitas kain di atas japan drill)<br />
-Side B (abu-abu) berbahan Mikro<br />
-Bordir komputer<br />
-Saku resleting</p>
<p>Ukuran jaket (P: Panjang, L: Lebar, PL: Panjang Lengan):<br />
S = P: 69cm L: 52cm PL: 59cm<br />
M = P: 71cm L: 54cm PL: 61cm<br />
L = P: 73cm L: 56cm PL: 63cm<br />
X = P: 75cm L: 58cm PL: 65cm</p>
<p>*akhwat ukuran Panjang tambah 5cm</p>
<p>Cara order:</p>
<p>Isi data berikut dan kirim ke inbox facebook <a href="http://www.facebook.com/ikhwahgaul.official">Ikhwah Keren</a>:<br />
-Nama Lengkap:<br />
-Alamat Lengkap:<br />
-No. Hp:<br />
-Nama di jaket:<br />
-Ukuran jaket:</p>
<p>Harga jaket:<br />
<strong>IDR 140.000</strong> (belum termasuk ongkos kirim dari Malang > cek ongkos kirim <a href="http://www.jne.co.id">JNE</a>)<br />
*akhwat tambah 5rb</p>
<p>Gallery jaket Ikhwah Gaul:</p>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/374166_2848915390966_517084591_n.jpg" alt="Green" /></p>
<p><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/393369_2401869455097_1321418841_n.jpg" alt="Siaga" /></p>
<p><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/550117_2848922911154_459034510_n.jpg" alt="Rakernas" /></p>
<p><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/270486_1883178968159_983189_n.jpg" alt="Launching" /></p>
<p><img src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/270685_1883174648051_5705929_n.jpg" alt="AZIG" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/jaket-ikhwah-gaul-kloter-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Al-Qur&#8217;an Diturunkan?</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/kapan-al-quran-diturunkan/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/kapan-al-quran-diturunkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Aug 2012 03:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Indonesia, biasanya memperingati malam Nuzulul Qur'an (diturunkannya Al-Qur'an pertama kali) pada malam ke 17 Ramadhan. Well, faktanya apakah benar seperti itu? Disini saya akan mencoba mencocokkan dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masyarakat Indonesia, biasanya memperingati malam Nuzulul Qur&#8217;an (diturunkannya Al-Qur&#8217;an pertama kali) pada malam ke 17 Ramadhan. Well, faktanya apakah benar seperti itu? Disini saya akan mencoba mencocokkan dengan dalil-dalil dari Al-Qur&#8217;an dan Hadits dari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.</p>
<p><strong>1. Al-Qur&#8217;an diturunkan pada bulan Ramadhan</strong><br />
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an”. (QS Al-Baqarah: 185)</p>
<p><strong>2. Al-Qur&#8217;an diturunkan pada Lailatul Qadr</strong><br />
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS Al-Qadr :1)<br />
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS Ad-Dukhaan: 3)</p>
<p><strong>3. Lailatul Qadr diturunkan pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan</strong><br />
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>4. Al-Qur&#8217;an diturunkan pada hari Senin</strong><br />
 Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim)</p>
<p>Sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal 7, 14, 21 dan 28. Jadi kesimpulan yang cocok dengan semua dalil di atas adalah, Al-Qur&#8217;an diturunkan pada Bulan Ramadhan malam ke 21. Wallahu A&#8217;lam bi sh-Shawab.</p>
<p>*catatan: sebetulnya tidak terlalu penting kita berdebat mengenai kapan turunnya Al-Qur&#8217;an karena memang banyak pendapat mengenai ini. Toh kalau memperingati secara berlebihan juga tidak baik karena tidak ada contoh yang diajarkan oleh Nabi, Sahabat, maupun Tabi&#8217;in. Jadikan saja itu sebagai penyemangat untuk memperbanyak lagi tilawah kita apalagi di bulan Ramadhan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/kapan-al-quran-diturunkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mars Ikhwah Gaul &#8211; Dari Pemuda Untuk Dunia</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/mars-ikhwah-gaul/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/mars-ikhwah-gaul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 11:58:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Hari demi hari kita lalui
Melangkah pasti dan Tak Kenal Henti!
Generasi pejuang yang telah dinanti
Bersama membangun negeri]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari demi hari kita lalui<br />
Melangkah pasti dan Tak Kenal Henti!<br />
Generasi pejuang yang telah dinanti<br />
Bersama membangun negeri</p>
<p>Kami para pemuda<br />
Siap korbankan jiwa dan raga<br />
Sinari kegelapan perangi kezholiman<br />
Demi kejayaan Islam</p>
<p>reff:<br />
Kami pemuda pemudi<br />
Yang merindukan kejayaan<br />
Kami Ikhwah Gaul<br />
Dari pemuda untuk semua</p>
<p>Kami pemuda pemudi<br />
Berjuang untuk perubahan<br />
Kami Ikhwah Gaul<br />
Dari pemuda untuk semua</p>
<p>*back to top*</p>
<p>Hari demi hari kita lalui<br />
Melangkah pasti dan Tak Kenal Henti!<br />
Generasi pejuang yang telah dinanti<br />
Bersama membangun negeri</p>
<p>Kami para pemuda<br />
Siap korbankan jiwa dan raga<br />
Sinari kegelapan perangi kezholiman<br />
Demi kejayaan Islam</p>
<p>reff:<br />
Kami pemuda pemudi<br />
Yang merindukan kejayaan<br />
Kami Ikhwah Gaul<br />
Dari pemuda untuk semua</p>
<p>Kami pemuda pemudi<br />
Berjuang untuk kemenangan<br />
Kami Ikhwah Gaul<br />
Dari pemuda untuk semua (2x)<br />
Dari pemuda untuk dunia</p>
<p>Download MP3 Mars Ikhwah Gaul &#8211; Dari Pemuda Untuk Dunia: <a href="http://www.mediafire.com/?z7ne27c6cuggdue">KLIK</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/mars-ikhwah-gaul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dokumentasi Rakernas I Ikhwah Gaul</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/dokumentasi-rakernas/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/dokumentasi-rakernas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 05:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa dokumentasi foto acara Rakernas I Ikhwah Gaul 23-25 Maret 2012]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa dokumentasi foto acara Rakernas I Ikhwah Gaul 23-25 Maret 2012</p>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/293739_2848920791101_1501890569_32185889_534373444_n.jpg" alt="Presentasi" /></p>
<p><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/550117_2848922911154_1501890569_32185890_459034510_n.jpg" alt="Pose di atas panggung" /></p>
<p><img src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/549751_2848910990856_1501890569_32185880_2124387766_n.jpg" alt="Ikhwah Green" /></p>
<p><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/542820_2848912310889_1501890569_32185881_104746425_n.jpg" alt="Ikhwah Cool" /></p>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/374166_2848915390966_1501890569_32185882_517084591_n.jpg" alt="Kebun Tebu" /></p>
<p><img src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/398346_2848918871053_1501890569_32185888_74738162_n.jpg" alt="Ikhwah Jalanan" /></p>
<p><img src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/559053_2848924991206_1501890569_32185891_533620312_n.jpg" alt="Rapat tengah malam" /></p>
<p><img src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/s720x720/522385_2848906270738_1501890569_32185873_408720822_n.jpg" alt="Sun Rise" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/dokumentasi-rakernas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hasil Rakernas I Ikhwah Gaul</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/rakernas/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/rakernas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 15:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah Rapat Kerja Nasional I Ikhwah Gaul tanggal 23-25 Maret 2012 telah usai dan berjalan lancar. Berikut laporan acaranya: Acara Rakernas I Ikhwah Gaul ini dihadiri oleh perwakilan Ikhwah Gaul daerah Jabodetabek, Bandung, Madiun Raya, Malang, Jogja, Solo, dan Surabaya. Acara pembukaan dimulai ba&#8217;da sholat Jum&#8217;at tanggal 23 Maret 2012. Dihadiri oleh para tamu undangan dari berbagai instansi dan tokoh masyarakat. Rapat pengurus inti dilakukan selama 2 hari 1 malam non-stop. Ada beberapa keputusan yang dihasilkan dari rapat ini. 1 &#8211; Penetapan definisi dari nama Ikhwah Gaul. Dimana kata Ikhwah yang bermakna sebagai muslim yang bersaudara. Sedangkan kata Gaul disini...</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah Rapat Kerja Nasional I Ikhwah Gaul tanggal 23-25 Maret 2012 telah usai dan berjalan lancar. Berikut laporan acaranya:</p>
<p>Acara Rakernas I Ikhwah Gaul ini dihadiri oleh perwakilan Ikhwah Gaul daerah Jabodetabek, Bandung, Madiun Raya, Malang, Jogja, Solo, dan Surabaya.</p>
<p>Acara pembukaan dimulai ba&#8217;da sholat Jum&#8217;at tanggal 23 Maret 2012. Dihadiri oleh para tamu undangan dari berbagai instansi dan tokoh masyarakat.</p>
<p>Rapat pengurus inti dilakukan selama 2 hari 1 malam non-stop. Ada beberapa keputusan yang dihasilkan dari rapat ini.</p>
<p>1 &#8211; Penetapan definisi dari nama Ikhwah Gaul. Dimana kata Ikhwah yang bermakna sebagai muslim yang bersaudara. Sedangkan kata Gaul disini berarti komunikatif, kreatif, <em>supel, peka</em>, dan <em>up to date</em> terhadap perkembangan informasi, serta tidak <em>kuper</em> apalagi <em>gaptek</em>. Bila digabungkan berarti maknanya adalah, Muslim yang tidak hanya memiliki bekal ilmu agama saja, namun juga memiliki jiwa sosial dan wawasan luas dalam hal-hal duniawi.</p>
<p>2 &#8211; Diresmikannya kantor pusat Lembaga Pembinaan Generasi Muslim (LPGM) Ikhwah Gaul di alamat Komplek Ponpes Badrussalam Gedung Selatan Lt. 2, Ds. Ngadirejo RT 04/02, Kec. Kawedanan, Kab. Magetan, Jawa Timur 63382</p>
<p>3 &#8211; Ikhwah Gaul memiliki visi <strong>Mewujudkan Generasi Muslim Gaul, Syar&#8217;i, dan Berprestasi</strong>. Dimana urutan kata Gaul, Syar&#8217;i, Berprestasi itu tidak mencerminkan prioritas dalam pembinaan tetapi ketiga kata itu memiliki satu kesatuan. Jika seseorang sudah Syar&#8217;i dan Berprestasi namun secara pergaulan kurang bersosial, maka ini menjadi tugas Ikhwah Gaul untuk mengajaknya bersosial dan bergaul dengan lingkungan dan masyarakat.</p>
<p>4 &#8211; Ikhwah Gaul memiliki 3 (tiga) misi. Yang pertama <strong>[1]</strong> Melaksanakan pembinaan generasi muslim secara Syar&#8217;i dan Modern. Kedua <strong>[2]</strong> Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang membangun karakter dan jati diri generasi muslim. Ketiga <strong>[3]</strong> Memperluas jaringan dan menguatkan ikatan silaturahim di dalam dan di luar lembaga.</p>
<p>5 &#8211; Ikhwah Gaul adalah organisasi yang membidangi pembinaan generasi muslim. Bersifat independen &#038; terbuka bagi setiap muslim yang ingin bergabung atau instansi yang ingin bersinergi dan berjuang bersama.</p>
<p>6 &#8211; Kesepakatan kerjasama Ikhwah Gaul dengan Madani Cyber Media (Fimadani). Fimadani (Madani Cyber Media) merupakan LSO (Lembaga Semi Otonom) yang bernaung di bawah badan hukum Lembaga Pembinaan Generasi Muslim (LPGM) Ikhwah Gaul.</p>
<p>7 &#8211; Launching program baru Ikhwah Gaul yang dinamakan Generasi Qur&#8217;an Asik atau disingkat GenerasiQ. GenerasiQ adalah program hafalan Qur&#8217;an berbasis mentoring.</p>
<p>8 &#8211; Pengangkatan status koordinator Ikhwah Gaul daerah menjadi cabang dalam Rapat IG Daerah yang akan diselenggarakan setelah Rapat IG Nasional.</p>
<p>9 &#8211; Launching lagu <a href="http://www.ikhwahgaul.com/mars-ikhwah-gaul/">Mars Ikhwah Gaul ~ Dari Pemuda Untuk Dunia</a></p>
<p>10 &#8211; Wacana program baru Ikhwah Gaul.</p>
<p>Untuk dokumentasi foto-foto Rakernas I bisa dilihat di sini <a href="http://www.ikhwahgaul.com/dokumentasi-rakernas">KLIK</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/rakernas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MLM Halal, Adakah?</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/mlm-halal-adakah/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/mlm-halal-adakah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 20:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Multi Level Marketing adalah sebuah sistem penjualan yang belum pernah dikenal sebelumnya di dunia Islam. Literatur fiqih klasik tentu tidak memuat hal seperti MLM itu. Sebab MLM ini memang sebuah fenomena yang baru dalam dunia marketing.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Multi Level Marketing adalah sebuah sistem penjualan yang belum pernah dikenal sebelumnya di dunia Islam. Literatur fiqih klasik tentu tidak memuat hal seperti MLM itu. Sebab MLM ini memang sebuah fenomena yang baru dalam dunia marketing.</p>
<p><strong>Hukum Mengikuiti Bisnis MLM</strong></p>
<p>Karena MLM itu masuk dalam bab muamalat, maka pada dasarnya hukumnya mubah atau boleh. Merujuk kepada kaidah bahwa al-aslu fil asy-ya&#8217;i al-Ibahah. Hukum segala sesuatu itu pada asalnya adalah boleh. Dalam hal ini maksudnya adalah dalam masalah muamalat. Sampai nanti ada hal-hal yang ternyata dilarang atau diharamkan dalam syariah Islam.</p>
<p>Apabila di dalam sebuah MLM itu ternyata terdapat indikasi riba`, misalnya dalam memutar dana yang terkumpul. Atau ada indikasi terjadinya gharar atau penipuan baik kepada downline ataupun kepada upline. Atau mungkin juga terjadi dharar, yaitu hal-hal yang membahayakan, merugikan atau menzhalimi pihak lain, entah dengan mencelakakan dan menyusahkan.</p>
<p>Dan tidak tertutup kemungkinan ternyata ada unsur jahalah atau ketidak-transparanan dalam sistem dan aturan. Atau juga perdebatan sebagian kalangan tentang haramnya praktek samsarah &#8216;ala samsarah, yaitu perantara ganda.</p>
<p>Sehingga kita tidak bisa terburu-buru memvonis bahwa bisnis MLM itu halal atau haram, sebelum kita teliti dan bedah dulu `isi perut`nya dengan pisau analisa syariah yang `tajam dan terpercaya`.</p>
<p><strong>1. Teliti dan Ketahui dengan Pasti</strong></p>
<p>Maka jauh sebelum anda memutuskan untuk bergabung dengan sebuah MLM tertentu, pastikan bahwa di dalamnya tidak ada ke-4 hal tersebut, yang akan membuat anda jauh ke dalam hal yang diharamkan Allah SWT.</p>
<p>Carilah keterangan dan perdalam terlebih dahulu wawasan dan pengetahuan anda atas sebuah tawaran ikut dalam MLM, jangan terlalu terburu-buru tergiur dengan tawaran cepat kaya dan seterusnya.</p>
<p>Tawaran cepat kaya dan hadiah yang terlalu menawan justru semakin menunjukkan indikasi adanya ketidak-wajaran dalam bisnis itu.</p>
<p>Sebaiknya anda harus yakin terlebih dahulu bahwa produk yang ditawarkan jelas kehalalannya, baik zatnya maupun metodenya. Karena anggota bukan hanya konsumen barang tersebut tetapi juga memasarkan kepada yang lainnya. Sehingga dia harus tahu status barang tersebut dan bertanggung-jawab kepada konsumen lainnya.</p>
<p><strong>2. Legalisasi Syariah</strong></p>
<p>Alangkah baiknya bila seorang muslim menjalankan MLM yang sudah ada legalisasi syariahnya. Yaitu perusahaan MLM yang tidak sekedar mencantumkan label dewan syariah, melainkan yang fungsi dewan syariahnya itu benar-benar berjalan. Sehingga syariah bukan berhenti pada label tanpa arti. Artinya, kalau kita datangi kantornya, maka ustaz yang mengerti masalah syariahnya itu ada dan siap menjelaskan letak halal dan haramnya.</p>
<p>Kepada pengawas syariah itu anda berhak menanyakan dasar pandangan kehalalan produk dan sistem MLM itu. Mintalah kepadanya dalil atau hasil kajian syariah yang lengkap untuk anda pelajari dan bandingkan dengan para ulama yang juga ahli dibidangnya. Itulah fungsi dewan pengawas syariah pada sebuah perusahaan MLM.</p>
<p>Jangan terlalu mudah dulu untuk mengatakan bebas masalah sebelum anda yakin dan tahu persis bagaimana dewan syariah di perusahaan itu memastikan kehalalannya.</p>
<p><strong>3. Hindari Produk Musuh Islam</strong></p>
<p>Seorang muslim sebaiknya menghindari diri dari menjalankan perusahaan yang memusuhi Islam baik secara langsung atau pun tidak langsung. Bukan tidak mungkin ternyata perusahaan induknya malah menjadi donatur musuh Islam dan keuntungannya bisinis ini malah digunakan untuk MEMBANTAI saudara kita di belahan bumi lainnya.</p>
<p>Meski pada dasarnya kita boleh bermuamalah dengan non muslim, selama mereka mau bekerjasama yang menguntungkan dan juga tidak memerangi umat Islam. Tetapi memasarkan produk musuh Islam di masa kini sama saja dengan berinfaq kepada musuh kita untuk membeli peluru yang merobek jantung umat Islam.</p>
<p><strong>4. Jangan Sampai Berdusta</strong></p>
<p>Hal yang paling rawan dalam pemasaran gaya MLM ini adalah dinding yang teramat tipis antara kejujuran dan dengan dusta. Biasanya, orang-orang yang diprospek itu dijejali dengan beragam mimpi untuk jadi milyuner dalam waktu singkat, atau bisa punya rumah real estate, mobil built-up mahal, apartemen mewah, kapal pesiar dan ribuan mimpi lainnya.</p>
<p>Dengan rumus hitung-hitungan yang dibuat seperti masuk akal, akhirnya banyak yang terbuai dan meninggalkan profesi sejatinya atau yang kita kenal dengan istilah `pensiun dini`. Apalagi bila objeknya itu orang miskin yang hidupnya senin kamis, maka semakin menjadilah mimpi di siang bolong itu, persis dengan mimpi menjadi tokoh-tokoh dalam dunia sinetron TV yang tidak pernah menjadi kenyataan.</p>
<p>Dan simbol-simbol kekayaan seperti memakai jas dan dasi, pertemuan di gedung mewah atau ke mana-mana naik mobil seringkali menjadi jurus pemasaran.</p>
<p>Dan sebagai upaya pencitraan diri bahwa seorang distributor itu sudah makmur, sering terasa dipaksakan. Bahkan istilah yang digunakan pun bukan sales, tetapi manager atau general manager atau istilah-istilah keren lain yang punya citra bahwa dirinya adalah orang penting di dalam perusahaan mewah kelas international.</p>
<p>Padahal boleh jadi ujung-ujungnya hanya &#8216;jualan obat&#8217;. Tidak ada bedanya dengan yang menggelar dagangan obat di trotoar, kecuali hanya atribut dan asesorisnya saja.</p>
<p>Kami tidak mengatakan bahwa trik ini haram, tetapi cenderung terasa mengawang-awang yang bila masyarakat awam kurang luas wawasannya, mereka sangat mudah untuktertipu mentah-mentah.</p>
<p><strong>5. Hati-hati dengan Mengeksploitir Dalil</strong></p>
<p>Yang harus diperhatikan pula adalah penggunaan dalil yang tidak pada tempatnya untuk melegalkan MLM. Seperti sering kita dengar banyak orang yang membuat keterangan yang kurang tepat.</p>
<p>Misalnya bahwa Rasulullah SAW itu profesinya adalah pedagang. Ini adalah pernyataan yang kurang tepat. Beliau ketika menjadi nabi bukanlah seorang pedagang. Yang benar adalah beliau memang pernah berdagang dan ketika masih kecil memang pernah diajak berdagang.</p>
<p>Dan itu terjadi jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun. Namun setelah menerima wahyu dan menjadi nabi, beliau tidak lagi menjadi pedagang. Pemasukan (ma`isyah) beliau adalah dari harta rampasan perang/ ghanimah, bukan dari hasil jualan atau menawarkan barang dagangan, juga bukan dengan sistem MLM.</p>
<p>Lagi pula kalaulah sebelum jadi nabi beliau pernah berdagang, jelas-jelas sistemnya bukan MLM. Dan Khadidjah ra itulah bukanlah up-linenya sebagaimana Maisarah juga bukan downline-nya.</p>
<p>Jadi jangan mentang-mentang yang diprospek itu umat Islam, atau ustaz yang punya banyak jamaah, atau tokoh yang berpengaruh, lalu dengan enak kita tancap gas tanpa memeriksa kembali dalil yang kita gunakan.</p>
<p>Terkait dengan itu, ada juga yang berdalih bahwa sistem MLM merupakan sunnah nabi. Mereka mengandaikannya dengan dakwah berantai/ berjenjang yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di masa itu.</p>
<p>Padahal apa yang dilakukan beliau itu tidak bisa dijadikan dalil bahwa sistem penjualan berjenjang itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Sebab ketika melakukan dakwah berjenjang itu, Rasulullah SAW tidak sedang berdagang dengan memberi barang/jasa dan mendapatkan imbalan materi.</p>
<p>Jadi tidak ada transaksi muamalat perdangan dalam dakwah berjenjang beliau. Kalau pun ada reward, maka itu adalah pahala dari Allah SWT yang punya pahala tak ada habisnya, bukan berbentuk uang pembelian.</p>
<p><strong>6. Jangan Sampai Kehilangan Kreatifitas dan Produktifitas</strong></p>
<p>MLM itu memang sering menjanjikan orang menjadi kaya mendadak, sehingga bisa menyedot keinginan dari sejumlah orang dengan sangat besar. Dan karena menggunakan sistem jaringan, memang dalam waktu singkat bisa terkumpul sejumlah orang yang siap menjual rupa-rupa produk.</p>
<p>Harus diperhatikan bahwa bila semua orang akan dimasukkan ke dalam jaringan MLM yang pada hakikatnya menjadi sales menjualkan produk sebuah industri, maka jangan sampai jiwa kreatifitas dan produktifitas ummat menjadi loyo dan mati. Sebab di belakang sistem MLM itu sebenarnya adalah industri yang mengeluarkan produk secara massal.</p>
<p>Padahal umat ini butuh orang-orang yang mampu berkreasi, mencipta, melakukan aktifitas seni, menemukan hal-hal baru, mendidik, memberikan pelayanan kepada ummat dan pekerjaan pekerjaan mulia lainnya. Kalau semua potensi umat ini tersedot ke dalam bisnis pemasaran, maka matilah kreatifitas umat dan mereka hanya sibuk di satu bidang saja yaitu: B E R J U A L A N produk sebuah industri.</p>
<p><strong>7. Etika Penawaran</strong></p>
<p>Salah satu hal yang paling `mengganggu` dari sistem pemasaran langsung adalah metode pendekatan penawarannya itu sendiri. Karena memang di situlah ujung tombak dari sistem penjualan langsung dan sekaligus juga di situlah titik yang menimbulkan masalah.</p>
<p>Biasanya kepada para distibutor selalu dipompakan semangat untuk mencari calon pembeli. Istilah yang sering digunakan adalah prospek. Sering hal itu dilakukan dengan tidak pandang bulu dan suasana.</p>
<p>Misalnya seorang teman lama yang sudah sekian tahun tidak pernah berjumpa, tiba-tiba menghubungi dan berusaha mengakrabi sambil memubuka pembicaraan masa lalu yang sedemikian mesra. Kemudian melangkah kepada janji bertemu.</p>
<p>Tapi begitu sudah bertemu, ujung-ujungnya menawarkan suatu produk yangsama sekali tidakdibutuhkan. Tetapi karena tidak enak, akhirnya dibeli juga. Ini adalah sebuah pemaksaan terselubung yang tidak dibenarkan.</p>
<p>Karena kawan lama, tidak enak juga bila tidak membeli. Karena si teman ini menghujaninya dengan sekian banyak argumen mulai dari kualitas produk yang terkadang sangat fantastis, termasuk peluang berbisnis di MLM tersebut yang intinya mau tidak mau harus beli dan jadi anggota. Pada saat mewarkan dengan sejuta argumen inilah seorang distributor bisa bermasalah.</p>
<p>Atau suasana yang penting menjadi terganggu karena adanya penawaran MLM. Sehingga pengajian berubah menjadi ajang bisnis. Juga rapat, kelas, perkuliahan, dan banyak suasana dan kesempatan penting berubah jadi `pasar`. Tentu ini akan terasa mengganggu.</p>
<p>Itulah sekedar gambaran umum yang bisa dijadikan acuan dasar dari pertimbangan kehalalan suatu bisnis multy level marketing. Tentu saja jawaban ini masih bersifat dasar sekali, belum lagi menyentuh kepada masalah yang lebih detail.</p>
<p>Apalagi mengingat bahwa tiap perusahaan yang menerapkan sistem MLM punya varisasi yang sangat beragam. Sehingga perlu dilakukan kajian syariah secara khusus satu per satu secara mendalam, dengan melibatkan banyak pakar syariah dan perdagangan.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshawab wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/ustsarwat/posts/404141799603148">Ahmad Sarwat, Lc</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/mlm-halal-adakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Cara Kami Bekerja, Talk Less Do More!</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/inilah-cara-kami-bekerja-talk-less-do-more/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/inilah-cara-kami-bekerja-talk-less-do-more/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 17:05:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Saat negara lain sudah mulai berangkat bekerja, kita masih saja berdebat mengenai baju apa yang sekiranya cocok untuk dipakai ke kantor. Saat negara lain sudah mulai berlari, kita masih asik berdebat mengenai sepatu apa yang kira-kira paling pas digunakan untuk berlari. Saat negara kita tengah panas-panasnya memperdebatkan mobil Esemka, maka tanpa kita sadari negara-negara yang lain sudah mulai menyiapkan landasan untuk berangkat terbang ke bulan..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan Indonesia namanya jika segala sesuatunya tidak mengundang perdebatan panjang. Negara kita ini kan negara yang sangat suka berdebat, dari mulai hal yang remeh-temeh hinggalah sesuatu yang besar, semua harus melalui mekanisme perdebatan yang berlarut-larut. Sehingga tanpa kita sadari, mau tidak mau dan suka tidak suka hal tersebutlah yang membuat negara kita sering kali tertinggal beberapa langkah dari negara-negara lain. </p>
<p>Saat negara lain sudah mulai berangkat bekerja, kita masih saja berdebat mengenai baju apa yang sekiranya cocok untuk dipakai ke kantor. Saat negara lain sudah mulai berlari, kita masih asik berdebat mengenai sepatu apa yang kira-kira paling pas digunakan untuk berlari. Saat negara kita tengah panas-panasnya memperdebatkan mobil Esemka, maka tanpa kita sadari negara-negara yang lain sudah mulai menyiapkan landasan untuk berangkat terbang ke bulan..</p>
<p>Para pendiri negara ini dahulu memang meletakkan &#8220;Musyawarah Mufakat&#8221; sebagai landasan dalam membangun Republik Indonesia tercinta ini, akan tetapi bukan yang seperti ini. Dalam hal ini, saya tidak sedang mencoba untuk tidak setuju dengan para pendahulu kita, karena meletakkan budaya musyawarah Mufakat tersebut. Akan tetapi dahulu, para pendiri Republik ini membawa segala perbedaan pendapat ke dalam sebuah forum musyawarah, yang pada akhirnya selalu dapat menghasilkan sebuah keputusan mufakat. Dimana keputusan tersebut dapat mewakili setiap golongan yang berdebat, sehingga semua pihak dapat menghargai dan menghormatinya..</p>
<p>Sedang pada kenyataannya perdebatan-perdebatan yang berkembang saat ini, lebih pada sebuah adu argumentasi yang tidak berpresisi, disertai dengan arogansi serta penuh dengan gejolak rasa emosi. Hal tersebut membuat segala perbedaan pendapat tersebut menjadi semakin parah, tak terarah, tak lagi lumrah dan pada akhirnya membuat semuanya menjadi semakin terpecah belah..</p>
<p>[<a href="http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/timnas/2012/02/06/118/apa-pentingnya-nama-dibelakang-baju-itu">BambangPamungkas20.com</a>]</p>
<p><strong>Fenomena Organisasi Dakwah</strong></p>
<p>Sudah menjadi hal lumrah, bahwa urusan internal menjadi problematika utama dalam sebuah organisasi, pun organisasi dakwah. Sehingga jangan salahkan kalau kemudian timbul pernyataan, bahwa 70% tenaga dan pikiran dihabiskan untuk mengurusi internal dan perencanaan. Yah&#8230; Meskipun akhirnya mereka akan melakukan pembenaran dengan berbagai dalil dan SoP organisasi. Akibatnya, dakwah lumpuh tak terurus karena sedikit sekali action.</p>
<p>Kalau sudah begini, siapakah yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya, mindset kita yang harus diubah. Perencanaan yang matang memang perlu, tapi juga harus diimbangi dengan kinerja yang baik. Jadi tidak terkesan timpang dan OMDO.</p>
<p>Mindset pertama, bahwa masyarakat itu melihat kita dari Kinerja dan Hasil. Apa peduli mereka terhadap planning atau strategi kita.</p>
<p>Mindset kedua, bahwa masing-masing individu harus menanamkan visi pribadi dalam organisasi, terlepas dari visi organisasi itu sendiri. Sehingga kita akan tetap fokus dan tidak akan mudah terpengaruh dengan keadaan rekan-rekan yang lain ketika mereka sedang bermasalah.</p>
<p>Mindset ketiga, bahwa tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan. Keyakinan seperti ini akan sangat diperlukan ketika dalam proses perencanaan menghasilkan sesuatu yang mustahil dilakukan.</p>
<p>So, Talk Less Do More guys!</p>
<p>oleh: <a href="http://www.facebook.com/schaid">Sa&#8217;id M. R.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/inilah-cara-kami-bekerja-talk-less-do-more/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Seharusnya] Metode Pengajaran, Bukan Materi Pelajaran</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/seharusnya-metode-pengajaran-bukan-materi-pelajaran/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/seharusnya-metode-pengajaran-bukan-materi-pelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Mar 2012 07:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Sistem pendidikan di Indonesia yang menilai segalanya dari nilai, sangat menekan dan membebani guru. Akhirnya guru pun melampiaskannya kepada para siswa. Hingga siswa terbebani dan dihantui rasa takut akan nilai. Padahal seharusnya nilai itu tidak bisa dijadikan patokan kepintaran atau kesuksesan siswa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)</p>
<p>Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.</p>
<p>Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.</p>
<p>Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.</p>
<p>Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”</p>
<p>“Dari Indonesia,” jawab saya.</p>
<p>Dia pun tersenyum.</p>
<p><strong>BUDAYA MENGHUKUM</strong></p>
<p>Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.</p>
<p>“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.</p>
<p>“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.</p>
<p>Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. KITA TIDAK DAPAT MENGUKUR PRESTASI ORANG LAIN MENURUT UKURAN KITA.</p>
<p>Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.</p>
<p>Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.</p>
<p>Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.</p>
<p>Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.</p>
<p>Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.</p>
<p>***</p>
<p>Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut saya sangat tidak manusiawi.</p>
<p>Mereka bukan melakukan ENCOURAGEMENT, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.</p>
<p>Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.</p>
<p>Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.</p>
<p>Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.</p>
<p>Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”</p>
<p>Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.</p>
<p>Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.</p>
<p><strong>MELAHIRKAN KEHEBATAN</strong></p>
<p>Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.</p>
<p>Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.</p>
<p>SEKOLAH yang membuat kita TIDAK NYAMAN mungkin telah membuat kita MENJADI LEBIH DISIPLIN. Namun di lain pihak dia juga bisa MEMATIKAN INISIATIF dan MENGENDURKAN SEMANGAT. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.</p>
<p>Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.</p>
<p>Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.</p>
<p>Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.</p>
<p><img src="http://3.bp.blogspot.com/-JFCMOf6lySo/Tgs10bKHVpI/AAAAAAAAAWo/wpfpmZDCz0o/s1600/17101304.jpg" alt="null" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/seharusnya-metode-pengajaran-bukan-materi-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sengaja Meninggalkan Shalat, Perlu di Qadha?</title>
		<link>http://www.ikhwahgaul.com/sengaja-meninggalkan-shalat-tidak-perlu-diqadha/</link>
		<comments>http://www.ikhwahgaul.com/sengaja-meninggalkan-shalat-tidak-perlu-diqadha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 12:11:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>boss</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://www.ikhwahgaul.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Bahwa orang yang meninggalkan shalat fardhu, sengaja atau tidak sengaja, wajib mengqadha' shalatnya. Berapa pun banyaknya jumlah shalat yang ditinggalkan, dan seberapa lama pun waktu yang terlewat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya saya agak bingung dengan pendapat yang satu ini, kenapa orang yang sengaja meninggalkan shalat fardhu lima waktu tidak perlu mengganti atau mengqadha&#8217; shalatnya? </p>
<p>Pelakunya hanya disuruh bertaubat kepada Allah SWT, lalu memperbanyak amal-amal shalih, termasuk shalat sunnah. Demikian difatwakan oleh banyak sumber, seperti Bin Baz, Utsaimin, Ibnu Taimiyah, Ibnu Hazm dan lain-lainnya.</p>
<p>Fatwa ini agak sedikit berbeda dengan pelajaran fiqih yang saya terima sejak kecil, bahwa orang yang meninggalkan shalat fardhu, sengaja atau tidak sengaja, wajib mengqadha&#8217; shalatnya. Berapa pun banyaknya jumlah shalat yang ditinggalkan, dan seberapa lama pun waktu yang terlewat.</p>
<p>Akhirnya saya menemukan dasar perbedaan pendapat ini. Rupanya memang sudah ada perbedaan mendasar antara jumhur ulama yang terdiri dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi&#8217;iyah di satu pihak, dengan pendapat mazhab Al-Hanabilah di pihak yang lain. Jumhur ulama sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, tidak divonis sebagai orang yang murtad atau kafir. Asalkan dalam dirinya masih meyakini bahwa shalat itu fardhu hukumnya. Sedekar meninggalkannya tidak kafir tetapi dosa besar.</p>
<p>Lain halnya dalam mazhab Al-Hanabilah, dalam pandangan mazhab ini orang yang sengaja meninggalkan shalat fardhu, mereka jatuhkan vonis murtad dan kafir. Lepas dari apakah yang bersangkutan meyakini atau tidak meyakini kewajiban shalat itu. Pokoknya, tidak shalat secara sengaja tanpa udzur yang syar&#8217;i, hukumnya murtad dan kafir.</p>
<p>Dan ternyata dari pandangan inilah fatwa untuk tidak perlu mengqadha&#8217; shalat itu bermula. Karena statusnya sudah kafir, maka orang kafir memang tidak perlu shalat. Jadi memang tidak ada qadha&#8217;. Yang ada cuma bertaubat untuk balik lagi masuk Islam, lalu memperbanyak amal ibadah, termasuk shalat-shalat sunnah.</p>
<p>Namun dalam pandangan jumhur ulama, orang yang tidak shalat itu tetap beragama Islam. Tentu ketika dia meninggalkan shalat, pastilah berdosa besar dan wajib bertaubat serta minta ampun dari Allah. Cuma, ya statusnya tetap muslim. Dan sebagai muslim, tetap wajib shalat. Kalau ditinggalkan, maka wajib diganti dengan melakukan shalat qadha&#8217;.</p>
<p>Konsekuensi Murtad </p>
<p>Sekilas nampaknya fatwa untuk tidak perlu mengqadha&#8217; shalat ini lebih mudah. Dan saya pribadi nyaris lebih sering mendengar fatwa ini ketimbang fatwa yang mewajibkan qadha&#8217; shalat yang ditinggalkan dengan sengaja.</p>
<p>Tetapi setelah tahu ternyata tidak perlu qadha&#8217; itu berdasarkan fatwa bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir, bulu kuduk saya rada merinding juga. Hmm serem juga fatwa itu.</p>
<p>Kalau orang divonis kafir, lepas kenapa sebabnya, maka ada banyak konsekuensi lainnya, antara lain :</p>
<p>1. Gugur Pahala Sebelumnya</p>
<p>Banyak ulama mengatakan bahwa orang yang murtad dari Islam, maka amal-amal shalih yang pernah dikerjakan akan ikut musnah bersama dengan kemurtadannya. Wah, sayang banget.</p>
<p>Bahkan sebagian fatwa ulama menyebutkan, bila seorang yang sudah pernah pergi haji kemudian murtad, maka begitu dia balik lagi menjadi muslim, dia wajib mengerjakan lagi ibadah haji dari mula. Wah, rugi juga ya. Uang 35 juta bukan uang kecil, lagian nunggu waiting list-nya juga nggak sebentar. </p>
<p>2. Pernikahannya Bubar</p>
<p>Karena seseorang berstatus murtad dan jadi orang kafir, maka istrinya yang dinikahi dengan sah otomatis menjadi putus hubungan. Karena syariat Islam mengharamkan perkawinan beda agama. Istilahnya memang bukan cerai, tetapi fasakh. Hal itu pernah dialami oleh puteri Rasulullah SAW, ketiak beliau masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya tidak mau masuk Islam, alias tetap dengan kekafirannya.</p>
<p>Maka kalau vonis buat orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah murtad / kafir, kasihan sekali istrinya. Tiba-tiba jadi janda karena suaminya jadi kafir. Dan mereka diharamkan melakukan hubungan suam istri karena pernikahan mereka batal.</p>
<p>3. Tidak Boleh Jadi Wali</p>
<p>Orang kafir tidak boleh menjadi wali pernikahan puterinya yang beragam Islam. Kasihan sekali anak perempuannya, tidak bisa dinikahkan oleh bapaknya, karena bapaknya meninggalkan shalat dengan sengaja dan tiba-tiba jadi orang kafir.</p>
<p>4. Tidak Memberi Harta Warisan dan Tidak Menerima Warisan</p>
<p>Hukum waris dalam syariat Islam tegas menyebutkan bahwa orang kafir tidak boleh menerima warisan dari pewarisnya yang muslim. Dan sebaliknya, juga tidak bisa memberi warisan kepada ahli warisnya yang muslim.</p>
<p>Maka saya pribadi, terserah orang lain mau setuju atau tidak, lebih cenderung kepada pendapat jumhur ulama saja, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya berdosa besar, dia wajib bertaubat, tetapi statusnya tidak murtad. Dia tetap beragama Islam. Tetapi karena dia berhutang shalat, maka dia wajib membayarkan hutang shalatnya itu alias mengqadha&#8217;, berapa pun banyaknya dan selama apa pun terpaut waktunya. Itulah fatwa jumhur ulama. Wallahua&#8217;lam bishshawab.</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/ustsarwat/posts/398050610212267">Ahmad Sarwat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ikhwahgaul.com/sengaja-meninggalkan-shalat-tidak-perlu-diqadha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
